Air adalah salah satu materi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Terbukti bahwa 70% dari zat penyusun tubuh manusia adalah air.

Tanpa plasma darah (baca serba-serbi tentang darah), darah tidak akan bisa mengirim oksigen ke seluruh tubuh. Kita masih bisa bertahan hidup hingga 30 hari tanpa makanan, namun kita akan mati kehausan jika dalam 3 hari tidak minum. Tidak hanya manusia, tumbuhan pun juga akan mati kekeringan jika tidak diberi air. Hewan pun juga sangat membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Jadi, tidak ada salahnya untuk tahu asal-usul air yang ada di muka bumi ini, agar kita paham betapa pentingnya air sebagai sumber kehidupan.

Siklus air atau sering disebut juga siklus hidrologi (hidro dari kata ‘hydro’ yang artinya air), secara umum terdiri dari beberapa proses :

  1. Panas matahari menyebabkan terjadinya proses penguapan air di permukaan bumi. Penguapan disebut juga EVAPORASI. Pengeuapan terbesar terjadi di samudera dan sisanya berasal dari danau, sungai, dan lahan basah. Selain itu ada juga proses pelepasan air oleh tumbuhan, yang disebut TRANSPIRASI. Keseluruhan proses itu disebut EVAPOTRANSPIRASI.
  2. Pada ketinggian tertentu, uap air mengembun, dan terlihat sebagai awan. Peristiwa mengembun disebut juga KONDENSASI.
  3. Dan setelah jenuh, kemudian akan jatuh dalam bentuk hujan, hujan es, salju, dan kabut. Peristiwa jatuhnya air kembali ke bumi disebut PRESIPITASI.
  4. Setibanya di permukaan bumi, air akan masuk ke dalam tanah melalui pori-pori tanah atau retakan pada batuan. Proses ini disebut INFILTRASI. Dalam proses ini, ada air yang mengalir di dalam tanah, yang disebut air tanah (ground water), ada yang mengalir di permukaan, ada juga air tanah yang keluar lagi bergabung dengan air permukaan, seperti danau dan sungai. Kemudian air permukaan, dan sebagian air tanah akan mengalir ke laut atau samudera.

Proses tersebut telah terjadi secara terus menerus sejak lama, hampir sama tuanya dengan bumi kita. Sekarang, mari kita bahas lebih detil beberapa proses tadi.

Ketika hujan turun pada tanah yang subur (contohnya tanah hutan), air akan mengisi rongga-rongga yang terdapat di antara butiran tanah. Lapisan ini bersifat permeabel (dapat ditembus air).

Air yang berhasil meresap ke dalam tanah akan terus bergerak ke bawah, hingga mencapai lapisan tanah atau batuan yang tak dapat ditembus/dilewati. Itu adalah lapisan yang bersifat impermeabel (tidak dapat ditembus air), disebut lapisan aquitard.

Akibatnya, air akan tertahan oleh lapisan aquitard, dan mengisi rongga-rongga yang terdapat di antara butiran tanah yang bersifat permeabel. Nah, air inilah yang disebut dengan AIR TANAH. Bagian atas dari air tanah disebut PERMUKAAN AIR TANAH.

Pada musim hujan, di daerah yang memiliki kemampuan menyerap air dengan baik, air hujan akan tersimpan sebagai air tanah yang menyebabkan tinggi permukaan air tanah naik. Sedangkan di musim kemarau, ketinggian air tanah akan turun, karena kurangnya curah hujan, yang berarti kurangnya pasokan air.

Keadaan seperti itu merupakan sesuatu yang alamiah. Namun ketika hutan dan tanaman terus dibabat, banyak lahan jadi gundul. Selanjutnya, karena tidak ada tumbuhan yang menahan, maka ketika hujan datang, butir-butir tanah akan dihanyutkan air. Sehingga tanah jadi kehilangan kemampuannya menyerap air.

Akibatnya, air tidak dapat lagi ditampung di dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke sungai dan terus ke laut. Nah, kalau sungai dan danau tak mampu lagi menampung air limpahan, terjadilah BANJIR.

Selain itu, akibat tidak adanya air yang ditampung oleh tanah, maka permukaan air tanah akan terus turun. Padahal untuk memulihkan persediaan air tanah diperlukan waktu yang sangat lama. Masalahnya, air tanah telah di’eksploitasi’ besar-besaran melalui penyedotan-penyedotan dengan menggunakan pompa berkapasitas besar.

Akibatnya, air yang terserap masuk ke dalam tanah tidak sebanyak air yang dikeluarkan dari dalam tanah. Akibat selanjutnya, cadangan air bersih akan habis. Dan ketika air yang mengisi rongga-rongga di dalam tanah habis, maka permukaan tanah juga akan turun. Dan suatu saat akan lebih rendah dari permukaan laut, sehingga air laut dengan mudah masuk daratan. Atau dengan kata lain, daerah tempat kita berpijak bisa TENGGELAM.

sumber: http://pontianak.tribunnews.com

Jadi, tidak mustahil kalau suatu saat nanti seluruh permukaan bumi nanti akan ditutupi oleh air. Lalu, bagaimana kita ingin mencegah agar hal tersebut tidak terjadi? Kita bisa kok melakukan hal yang sangat sederhana. HEMATLAH PENGGUNAAN AIR, artinya penggunaan air tanahnya bisa dipakai seefektif mungkin, dan tidak terbuang percuma. Kalian bisa melakukannya? ^_^

Baca Juga
Artikel tidak ditemukan